Saturday, May 12, 2007

PERKEMBANGAN ILMU

George J. Mouly



Pendekatan silogisme adalah satu-satunya metode yang efektif dalam cara berpikir secara sistematis dalam zaman Yunani dan Romawi sampai pada masa Galileo dan Renaissance. Cara berpikir pada abad Pertengahan berdasarkan silogisme ini mencapai puncaknya yang ekstrim, di mana tanpa memperhatikan peringatan Aristoteles, manusia berpikir seakan-akan seperti suatu gimnastik mental tanpa hubungan sama sekali dengan pengamatan dan pengalaman alam nyata.

Dalam permulaan abad ketujuh belas, Francis Bacon memimpin suatu pemberontakan terhadap cara berpikir di atas. Dia berpendapat bahwa terdapat tendensi di antara para ahli filsafat untuk mula-mula setuju pada suatu kesimpulan, dan baru dari sana dimulai usaha untuk mengumpulkan berbagai fakta yang mendukung kesimpulan tersebut.

Hal yang sen rupa dilakukan orang dalam berdebat di mana mengemukakan argumentasi yang meyakinkan dalam rangka menyokong suatu pendapat adalah seakan-akan hal yang utama jauh lebih penting daripada menemukan kebenaran itu sendiri.

Lebift lanjut dia mengemukakan bahwa jika seseorang mengumpulkan keterangan yang cukup tentang sesuatu tanpa anggapan yang sebelumny sudah terbentuk tentang hal tersebut — atau dengan perkataan lain mer coba mempertahankan obyektivitas yang sempurna — maka hubungar hubungan yang terkait secara asasi akan muncul sebagai suatu kesimpul bagi pengamat yang tekun.

Walaupun begitu Bacon ternyata keliru dalam anggapan dasarnya bahwa sebuah hipotesis mempunyai tendensi untuk berwasangka yang membelokkan pengambilan kesimpulan dari keadaan yang sebenarnya dan menyebabkan pengamatan menjadi tidak obyektif.

Hal ini tidak usah demikian bila seseorang bermaksud untuk mengadakan penyelidikan, yakni untuk menguji benar tidaknya suatu pendapat sementara, dan bukan untuk membuktikan suatu pendapat yang sudah terbentuk. Kenyataan se-karang adalah bahwa seseorang yang akan menulis disertasi atau thesis diharuskan untuk menyatakan secara tepat hipotesis-hipotesis yang akan diuji.

Metode Bacon dalam bentuk terbaiknya adalah bersifat memboros-kan waktu; sedangkan pada bentuk yang paling buruk adalah sama sekali tidak efektif. Suatu penyelidikan yang tidak diarahkan oleh sebuah hipo¬tesis kemungkinan sekali akan berakhir dengan kebingungan dan bukan dengan kejelasan dan kesimpulan yang bersifat umum.

Pendekatan Induktif-Deduktif Modern
Metode induktif dari Bacon kemudian digantikan oleh metode induktif-deduktif di mana Charles Darwin pada umumnya diakui sebagai pelopor yang menggabungkan metode deduksi Aristoteles dengan metode induksi Bacon.
Metode gabungan ini merupakan kegiatan beranting antara induksi dan deduksi di mana mula-mula seorang penyelidik mempergunakan metode induksi dalam menghubungkan antara pengamatan dengan hipotesis. Kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasinya. Setelah lewat berbagai perubahan yang dirasa perlu maka hipo¬tesis ini kemudian diuji melalui serangkaian data yang dikumpulkan untuk mengetahui syah atau tidaknya (atau dengan perkataan lain benar atau tidaknya) hipotesis tersebut secara empiris.

PERKEMBANGAN ILMU

Animisme
.
Mitologi kuno penuh dengan ber-macam dewa dan dewi yang kelihatannya memainkan peranan yang pen-ting dalam kehidupan manusia primitif.

Empiris
Perkembangan ke arah ini berlangsung lambat. Perkiraan yang an tidak sistematis secara lambat laun memberi jalan kepada observasi yang lebih sistematis dan kritis; kemudian kepada pengujian hipotesis dan akhirnya, menyatukan penemuan-penemuan yang terpisah-pisah pada formulasi pengujian secara sistematis dan teliti

1. Pengalaman. Kiranya jelas bahwa titik tolak ilmu pada tahap yang pa¬ling permulaan adalah pengalaman, apakah itu hujan angin, badai salju, tabung yang pecah karena pengembangan air yang membeku, gerhana, atau keteraturan yang terlihat sehari-hari. Ilmu mulai dengan suatu obser- vasi, di mana kemudian ditambahkan kepadanya observasi-observasi lain baik yang serupa maupun yang tidak, sampai suatu kesamaan atau per-bedaan dapat dicapai.
2. Klasifikasi. Prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisah menjadi dasar yang fungsional adalah klasifikasi, suatu prosedur yang pokok bagi semua penelitian — dan bagi semua kegiatan mental — karena toll ini merupakan cara yang sederhana dan cerrnat dalam memahami sejumlah besar data.
3. Kuantifikasi. Sesungguhnya, makin maju suatu ilmu, makin besar kebutuhan untuk meninggalkan pencacahan pengalaman dan melangkah ke arah suatu pengukuran yang lebih teliti, agar kemungkinan dilakukannya suatu analisis yang lebih layak lewat manipulasi matematis.
4. Penemuan Hubungan-Hubungan. Lewat berbagai klasifikasi. yang berbeda-beda, sering terjadi bahwa kita melihat adanya hubungan fungsional tertentu antara aspek-aspek komponennya.
5. Perkiraan Kebenaran. Ilmuwan pada umumnya menaruh perhatian ke¬pada hubungan yang lebih fundamental daripada hubungan yang hanya tanpak pada kulitnya. Suatu peristiwa sering terjadi sedemikian rumitnya sehingga hubungan-hubungan yang mungkin terdapat tampaknya menjadi kabur. Oleh sebab itu perlu untuk menganalisis kejadian tersebut dengan memperhatikan unsur-unsurnya yang bersifat dasar dengan tujuan untuk menentukan secara lebih jelas hubungan-hubungan dari berbagi aspeknya.
Ilmu Teoritis
Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah ilmu teoritis, di mana hubungan dan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan dasar suatu kerangka pemikiran tentang sebab-musabah sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengontrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai.

Mungkin ke¬kurangan yang paling besar dalam ilmu ini adalah kegagalan untuk menyusun suatu kerangka teoritis di mana dapat disintesakan segenap penemuan empiris sampai saat ini. Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini ilmu-ilmu sosial terlalu menitikberatkan aspek empiris dan melalaikan aspek teoritis. Hanya akhir-akhir ini saja terdapat kesadaran bahwa empirisme merupakan tahap keilmuan yang belum lengkap dan memerlukan orientasi yang lebih besar terhadap teori.

No comments:

Copyright © 2013 Dedi Iskamto: PERKEMBANGAN ILMU | Design by Ais