Saturday, May 12, 2007

METODE DALAM MENCARI PENGETAHUAN: RASIONALISME, EMPIRISME DAN METODE KEILMUAN

Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt

RASIONALISME
Kaum rasionalisme mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari idea yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk "mengetahui" idea tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, maupun tidak mempelajari lewat pengalaman. Idea tersebut kiranya sudah ada "di sana" sebagai bagian dari kenyataan dasar, dan pikiran manusia, karena ia terlihat dalam kenyataan tersebut, pun akan mengandung idea pula. Jadi dalam pengertian inilah maka pikiran itu menalar. Kaum rasionalis berdalil, bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus "ada"; artinya, prinsip harus benar dan nyata. Jika prin¬sip itu tidak "ada", orang tidak mungkin akan dapat menggambarkan-nya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu a-priori, atau pengalaman, dan ka¬rena itu prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman: bahkan sebalik-nya, pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip ter¬sebut.

Kritik terhadap Rasionalisme

1. Pengetahuan rasional dibentuk oleh idea yang tidak dapat dilihat maupun diraba. Eksistensi tentang idea yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat dikuatkan oleh semua manusia dengan kekuatan dan keyakinan yang sama. 2. banyak di antara manusia yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besar dalam menerapkan konsep rasional kepada masalah kehidupan yang praktis. 3. Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Banyak dari idea yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain.

EMPIRISME
Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat di¬andalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sis¬tem pengetahuan yang mempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat dijamin.
Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata "Tunjukkan hal itu kepada saya". Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri.
Kritik terhadap Empirisme
(1) Empirisme didasarkan pada pengalaman. Tetapi apakah yang disebut pengalaman? Sekali waktu dia hanya berarti rangsangan pancaindera. Lain kali dia muncul sebagai sebuah sensasi ditambah dengan penilaian. Se¬bagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif yang (2). Sebuah teori yang sangat menitikberatkan pada persepsi pancaindera kiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah ter-batas dan tidak sempurna. (3). Empirisme tak memberikan kita kepastian. Apa yang disebut penge¬tahuan yang mungkin, dalam pengertian di atas, sebenarnya merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan.

KEILMUAN:
ANTARA RASIONALISME DAN EMPIRISME
"terdapat suatu anggapan yang luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang terdapat beberapa alasan untuk mendukung penilaian yang populer ini, karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan, dan mempergunakan data inderawi. Walaupun begitu, analisa yang mendalam terhadap metode keilmuan akan menyingkapkan kenyataan, bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan dalam usahanya mencari, pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai suatu kombinasi antara prosedur empiris dan rasional.
Kesadaran dan Perumusan Masalah
Ketika manusia menemukan beberapa kesulitan dalam menghadapi dunia ini dalam memecahkan kesulitan tersebut secara berakal, maka pemikiranakan mulai berbentuk. Atau dengan perkataan lain, manusia menciptakan masalah dan mengajukan sesuai yang menurut pikirannya adalah petanyaan yang dapat dijawab.

Penyusunan dan Klasifikasi Data
Tahap metode keilmuan ini menekankan kepada penyusunan fakta da¬lam kelompok-kelompok, jenis-jenis dan kelas-kelas. Dalam semua cabang-cabang ilmu, usaha untuk mengidentifikasikan, menganalisis, membandingkan, dan membedakan fakta-fakta yang relevan tergantung kepada adanya sistem klasifikasi ini disebut taxonomi, dan ilmuwan modern terus berusaha untuk menyempurnakan taxonomi khusus bidang
keilmuan mereka.
Test dan pengujian kebenaran (verifikasi ) Hipotesis
Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah sebuah teori pengetahuan yang dipergunakan manusia dalam memberikan jawaban tertentu terhadap suatu pernyataan. Metode ini menitikberatkan kepada suatu urutan prosedur yang saksama di mana diperoleh sekumpulan pengetahuan yang diperluas secara terus-menerus dan bersifat mengoreksi diri sendiri.

Kritik terhadap Metode Keilmuan
(1) metode keilmuan membatasi secara begitu saja mengenai apa yang «t diketahui manusia, yang hanya berkisar pada benda-benda yang ia dipelajari dengan alat dan teknik keilmuan.(2). ilmu memperkenankan tafsiran yang banyak terhadap suatu benda atau kejadian. ilmnu menggambarkan hakekat mekanistis —bagaimana benda-benda saling berhubungan satu sama lain secara sebab akibat — namun ilmu tidak mengemukakan apakah hakekat benda itu, apalagi mengapa benda itu ada (3). pengetahuan keilmuan, meskipun sangat tepat, tidaklah berarti bahwa ia merupakan keharusan, universal maupun tanpa persyaratan tertentu.
selengkapnya...

PERKEMBANGAN ILMU

George J. Mouly



Pendekatan silogisme adalah satu-satunya metode yang efektif dalam cara berpikir secara sistematis dalam zaman Yunani dan Romawi sampai pada masa Galileo dan Renaissance. Cara berpikir pada abad Pertengahan berdasarkan silogisme ini mencapai puncaknya yang ekstrim, di mana tanpa memperhatikan peringatan Aristoteles, manusia berpikir seakan-akan seperti suatu gimnastik mental tanpa hubungan sama sekali dengan pengamatan dan pengalaman alam nyata.

Dalam permulaan abad ketujuh belas, Francis Bacon memimpin suatu pemberontakan terhadap cara berpikir di atas. Dia berpendapat bahwa terdapat tendensi di antara para ahli filsafat untuk mula-mula setuju pada suatu kesimpulan, dan baru dari sana dimulai usaha untuk mengumpulkan berbagai fakta yang mendukung kesimpulan tersebut.

Hal yang sen rupa dilakukan orang dalam berdebat di mana mengemukakan argumentasi yang meyakinkan dalam rangka menyokong suatu pendapat adalah seakan-akan hal yang utama jauh lebih penting daripada menemukan kebenaran itu sendiri.

Lebift lanjut dia mengemukakan bahwa jika seseorang mengumpulkan keterangan yang cukup tentang sesuatu tanpa anggapan yang sebelumny sudah terbentuk tentang hal tersebut — atau dengan perkataan lain mer coba mempertahankan obyektivitas yang sempurna — maka hubungar hubungan yang terkait secara asasi akan muncul sebagai suatu kesimpul bagi pengamat yang tekun.

Walaupun begitu Bacon ternyata keliru dalam anggapan dasarnya bahwa sebuah hipotesis mempunyai tendensi untuk berwasangka yang membelokkan pengambilan kesimpulan dari keadaan yang sebenarnya dan menyebabkan pengamatan menjadi tidak obyektif.

Hal ini tidak usah demikian bila seseorang bermaksud untuk mengadakan penyelidikan, yakni untuk menguji benar tidaknya suatu pendapat sementara, dan bukan untuk membuktikan suatu pendapat yang sudah terbentuk. Kenyataan se-karang adalah bahwa seseorang yang akan menulis disertasi atau thesis diharuskan untuk menyatakan secara tepat hipotesis-hipotesis yang akan diuji.

Metode Bacon dalam bentuk terbaiknya adalah bersifat memboros-kan waktu; sedangkan pada bentuk yang paling buruk adalah sama sekali tidak efektif. Suatu penyelidikan yang tidak diarahkan oleh sebuah hipo¬tesis kemungkinan sekali akan berakhir dengan kebingungan dan bukan dengan kejelasan dan kesimpulan yang bersifat umum.

Pendekatan Induktif-Deduktif Modern
Metode induktif dari Bacon kemudian digantikan oleh metode induktif-deduktif di mana Charles Darwin pada umumnya diakui sebagai pelopor yang menggabungkan metode deduksi Aristoteles dengan metode induksi Bacon.
Metode gabungan ini merupakan kegiatan beranting antara induksi dan deduksi di mana mula-mula seorang penyelidik mempergunakan metode induksi dalam menghubungkan antara pengamatan dengan hipotesis. Kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasinya. Setelah lewat berbagai perubahan yang dirasa perlu maka hipo¬tesis ini kemudian diuji melalui serangkaian data yang dikumpulkan untuk mengetahui syah atau tidaknya (atau dengan perkataan lain benar atau tidaknya) hipotesis tersebut secara empiris.

PERKEMBANGAN ILMU

Animisme
.
Mitologi kuno penuh dengan ber-macam dewa dan dewi yang kelihatannya memainkan peranan yang pen-ting dalam kehidupan manusia primitif.

Empiris
Perkembangan ke arah ini berlangsung lambat. Perkiraan yang an tidak sistematis secara lambat laun memberi jalan kepada observasi yang lebih sistematis dan kritis; kemudian kepada pengujian hipotesis dan akhirnya, menyatukan penemuan-penemuan yang terpisah-pisah pada formulasi pengujian secara sistematis dan teliti

1. Pengalaman. Kiranya jelas bahwa titik tolak ilmu pada tahap yang pa¬ling permulaan adalah pengalaman, apakah itu hujan angin, badai salju, tabung yang pecah karena pengembangan air yang membeku, gerhana, atau keteraturan yang terlihat sehari-hari. Ilmu mulai dengan suatu obser- vasi, di mana kemudian ditambahkan kepadanya observasi-observasi lain baik yang serupa maupun yang tidak, sampai suatu kesamaan atau per-bedaan dapat dicapai.
2. Klasifikasi. Prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisah menjadi dasar yang fungsional adalah klasifikasi, suatu prosedur yang pokok bagi semua penelitian — dan bagi semua kegiatan mental — karena toll ini merupakan cara yang sederhana dan cerrnat dalam memahami sejumlah besar data.
3. Kuantifikasi. Sesungguhnya, makin maju suatu ilmu, makin besar kebutuhan untuk meninggalkan pencacahan pengalaman dan melangkah ke arah suatu pengukuran yang lebih teliti, agar kemungkinan dilakukannya suatu analisis yang lebih layak lewat manipulasi matematis.
4. Penemuan Hubungan-Hubungan. Lewat berbagai klasifikasi. yang berbeda-beda, sering terjadi bahwa kita melihat adanya hubungan fungsional tertentu antara aspek-aspek komponennya.
5. Perkiraan Kebenaran. Ilmuwan pada umumnya menaruh perhatian ke¬pada hubungan yang lebih fundamental daripada hubungan yang hanya tanpak pada kulitnya. Suatu peristiwa sering terjadi sedemikian rumitnya sehingga hubungan-hubungan yang mungkin terdapat tampaknya menjadi kabur. Oleh sebab itu perlu untuk menganalisis kejadian tersebut dengan memperhatikan unsur-unsurnya yang bersifat dasar dengan tujuan untuk menentukan secara lebih jelas hubungan-hubungan dari berbagi aspeknya.
Ilmu Teoritis
Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah ilmu teoritis, di mana hubungan dan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan dasar suatu kerangka pemikiran tentang sebab-musabah sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengontrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai.

Mungkin ke¬kurangan yang paling besar dalam ilmu ini adalah kegagalan untuk menyusun suatu kerangka teoritis di mana dapat disintesakan segenap penemuan empiris sampai saat ini. Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini ilmu-ilmu sosial terlalu menitikberatkan aspek empiris dan melalaikan aspek teoritis. Hanya akhir-akhir ini saja terdapat kesadaran bahwa empirisme merupakan tahap keilmuan yang belum lengkap dan memerlukan orientasi yang lebih besar terhadap teori.
selengkapnya...

STRUKTUR ILMU

Peter R. Senn


Perkembangan ilmu pada waktu lampau dan sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebe¬naran. Ilmu meliputi baik pengetahuan maupun cara yang dikembangkan manusia dalam mencapai tujuan tersebut. Baik penge¬tahuan (yang merupakan produk ilmu) maupun cara (proses dari ilmu) terdiri dari berbagai jalan dan langkah. Metode-metode keilmuan telah dikembangkan untuk membimbing kita dalam perjalanan ini.
Untuk kebanyakan ilmuwan, kebenaran baru diketahui jika mereka dapat meramalkan apa yang akan terjadi di bawah persyaratan tertentu. Mereka puas dengan falsafah "biarlah masing-masing mengatur dirinya sendiri," dan terserah kepada masing-masing untuk menentukan spesifikasi yang eksak dari tuju¬an akhir yang dikejarnya. Mereka tahu garis besar dari arah yang dituju tetapi tujuan terakhir masih jauh sekali. Proses perjalanan ke arah kebe¬naran itu sendiri sudah merupakan kepuasan.

Sistem Ilmu
Ilmu dapat dianggap sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Dan seperti juga sistem-sistem yang lainnya dia mempunyai komponen-komponen yang berhubungan satu sama lain. Komponen utama dari sistem ilmu adalah: (1) perumusan masalah (2) pengamatan dan deskripsi 0} penjelasan; (4) ramalan dan kontrol.

Seorang ilmuwan yang bergelut tiap waktu dengan masalah keilmuan akan mempergunakan keseluruhan sistem ini dengan berbagai metode yang dipakainya. Dia mengenal keseluruhan sistem ini dengan sangat intim seperti seorang sopir mengenal sebuah mobil.

yang sangat menolong dalam mempelajari komponen-komponen ini adalah pengertian tentang salah satu dari ciri utama ilmu yakni bahwa ilmu mempunyai sifat mengoreksi dirinya sendiri.

Tiap-tiap komponen dari sistem mempunyai unsur yang dapat menemukan kesalahan tersebut. dalam jangka waktu yang panjang kesalahan yang dilakukan oleh orang ilmuwan, atau asumsi yang salah yang diterima oleh kegagalan keilmuan Secara umum, ternyata akan gagal untuk menghasilkan pemecahan yang tepat terhadap masalah -masalah baru yang dmbul, dan dengan demikian para ilmuwan harus mengkaji kembali konsep kebenaran mereka terdahulu.


Perumusan Masalah
Dalam merumuskan masalah, para ilmuwan harus membatasi dirinya dengan ruang lingkup yang terbatas yang diketahuinya. Walaupun begitu, kita harus menyadari bahwa tidak semua masalah adalah tepat bagi ilmu. Suatu cara yang biasanya dilakukan dalam menemukan dan merumuskan masalah adalah melewati persepsi kita dalam menghadapi kesulitan tertentu. Kita bisa merasakan, umpamanya, bahwa kita mengalami kesukaran ketika pulang pergi ke tempat pekerjaan dan kita pun mulai merumuskan masalah pengangkutan. Atau mungkin kita melihat kontradiksi dari dua orang ilmuwan yang bagi kita merupakan masalah. karya keilmuan yang terbaik biasanya ditandai dengan api hasrat yang menyala-nyala yang menyinari ilmuwan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Persyaratan Masalah Keilmuan
Sebenarnya sukar untuk mendapatkan beberapa definisi tentang masalah yang baik dalam ilmu.
Ciri yang ideal dari sebuah masalah keilmuan adalah bahwa masalah itu penting karena pemecahannya berguna. Masalah keilmuan adalah penting bila masalah menghubungkan dalam suatu kesatuan pengetahuan yang sebelumnya dianggap berdiri sendiri-sendiri. Atau suatu masalah adalah penting karena dia mampu mengisi celah yang masih ketinggalan dalam khazanah pengetahuan kita.
Para ilmuwan biasanya meneliti masalah yang menurut anggapan mereka adalah penting. mereka membiarkan orang lain mengerjakan apa yang dianggapnya penting jadi ilmu bersifat sangat demokratis sehingga ilmu dapat berkembang kesemua jurusan.

Sekali masalah yang menarik dan penting telah dipilih, terdapat beberapa ciri tertentu dari perumusan masalah secara keilmuan. Sebuah masalah haruslah secara tepat dinyatakan agar memungkinkan kita untuk memilih fakta-fakta yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Ciri yang lain dari sebuah masalah dalam ilmu adalah bahwa masalah itu mesti dapat dijawab dengan jelas, atau dengan perkataan lain, bahwa sebuah masalah tak boleh dirumuskan sedemikian rupa sehingga berapa pun jumlah jawaban yang diberikan akan tetap memenuhi syarat.
Ciri selanjutnya dari masalah keilmuan adalah bahwa tiap jawaban terhadap permasalahan itu mesti dapat diuji oleh orang lain. Artinya tiap ilmuwan yang mengajukan pertanyaan yang mana akan mendapatkan jawaban yang sama pula.

Ciri-Ciri Lainnya dari Masalah Keilmuan
Sebuah masalah keilmuan juga harus dirumuskan sedemikian sehingga pengumpulan data dapat dilakukan secara obyektif.
Ciri yang paling penting lainnya dari masalah keilmuan adalah bahwa masalah itu harus dapat dijawab lewat penelaahan keilmuan di mana ter¬sedia data secara nyata atau secara potensial tersedia.

masalah keilmuan juga harus mengandung unsur pengukuran dan defenisi dari variabel yang terdapat dalam masalah tersebut dimana hal ini dapat diuji oleh orang lain dan definisinya merupakan suatu hal yang dapat diketahui oleh orang lain.
Jika masalah telah dirumuskan dengan baik, hasil perumusan ini biasanya disebut hipotesis. Hipotesis ini adalah sebuah pernyataan. Hipotesis merupakan pernyataan yang dapat diuji

Pengamatan dan Deskripsi

Karena manusia kebanyakan berpikir dalam bahasa, semua cabang ilmu pengetahuan mencoba mengembangkan bahasa khusus untuk mengamati dan menguraikan aspek-aspek yang lebih luas yang dapat dicakup secara teknis keilmuan. Merupakan ciri dari ilmu yang sedang berada dalam tahap perintisan di mana diperlukan nama-nama bagi benda baru atau kombinasi dari benda-benda lama.

Tinjauan Pustaka
Langkah selanjutnya dalam sistem penelaahan keilmuan adalah meninjau kepustakaan tentang apa yang telah dilakukan orang lain di masa lalu. Tinjauan pustaka menggambarkan apa yang telah dilakukan para ilmuwan yang lain dan hal ini akan mencegah duplikasi yang tidak perlu. kita maksudkan dengan duplikasi yang tak ada gunanya adalah melakukan kembali pencarian pengetahuan yang telah ada tanpa menam-bahkan sesuatu yang baru.
Tinjauan pustaka sering sekali memberikan jalan tentang langkah mana yang harus ditempuh dalam mendekati hipotesis. Bagaimana cara membikin kerangka penelitian, melakukan studi, dan mengumpulkan data jelas merupakan masalah yang penting.
Kadang juga tinjau¬an pustaka memberikan kita idea-idea baru yang belum terpikirkan atau suatu pengertian yang lebih mendalam tentang hipotesis yang sedang kita telaah.

Persepsi Mempengaruhi Penafsiran
Jika imuwan ingin mendapatkan sesuatu yang tepat, dia harus berusaha untuk melakukan pendekatan kuantitatif atau mengukur dengan suatu unit standar tertentu untuk bisa melakukan perbandingan. Dia harus berhati-hati dalam membikin standar atau mem-bikin kerangka pengamatannya sehingga orang lain juga dapat melaku¬kan pengujian. Atau dengan perkataan lain, dia harus melakukan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga para ilmuwan yang lain dapat mem-benarkan atau meniru penemuannya.

Teknologi Menolong Pengamatan
. Pada umumnya, seorang ilmuwan mem¬pergunakan alat apa saja yang sekiranya akan menolong dalam menyeli-diki hipotesisnya. Walaupun begitu, dia harus tetap berhati-hati karena dalam kenyataannya persepsi indera manusia bersifat temporer dan tak dapat dipercaya; apa yang dilihat atau didengarnya hanya diingat, baik secara teliti maupun tidak. Oleh sebab itu, sebuah potret atau rekaman tape adalah pencatat yang lebih baik dan merupakan sesuatu yang bisa dipelajari berulang kali.
peogukuran
Hampir semua metode keilmuan memerlukan pengukuran. Pengukuran berarti membandingkan suatu obyek tertentu dan memberi angka kepada obyek tersebut menurut cara-cara tertentu.

Meskipun terdapat paling tidak enarn cara pengukuran, namun para ahli ilmu sosial kebanyak-mempergunakan dua tipe perbandingan, yakni ordinal dan kardinal.
Ilmu mempergunakan kedua cara perbandingan tersebut dan untuk menjaga ketelitian juga dipergunakan cara ketiga, yakni satuan pengukur¬an. satuan pengukuran harus ditetapkan — umpama¬nya sistem metrik — yang dapat dipergunakan ilmuwan untuk mengukur n mencatat untuk perbandingan kemudian.

Penjelasan
Setelah ilmuwan melakukan pengamatan, membuat deskripsi dan mencatat data menurut dia adalah relevan dengan masalahnya, dia menghadapi salah satu segi yang terpenting dari usahanya, yakni memberi penjelasan.
Penjelasan dalam ilmu pada dasarnya adalah menjawab pertanyaan "mengapa". Terdapat empat cara yakni:
Penjelasan Deduktif. Sebuah penjelasan deduktif terdiri dari serangkaian pertanyaan di mana kesimpulan tertentu disimpulkan setelah menetapkan aksioma atau postulat.
Penjelasan Probabilistik (Kemungkinan). ' Terdapat semacam pertanyaan dalam ilmu yang tidak dapat dijawab secara pasti seperti yang dilakukan dalam metode deduktif. Pertanyaan semacam ini hanya mungkin dijawab dengan kata-kata seperti "mungkin", "hampir pasti", atau "dalam batas 596" dan jawaban ini disebut probabilistik.

PenjeUuan Genetis. Penjelasan genetis menjawab pertanyaan "mengapa" dengan apa yang telah terjadi sebelumnya penjelasan genetis ini kadang-kadang disebut penjelasan historis.

Pmjelasan Fungsional. menjawab terhadap pertanyaan "mengapa" dengan jalan menyelidiki tempat dari obyek yang sedang diteliti dalam keseluruhan sistem di mana obyek tersebut berada.

Macam-macam Ramalan

Hukum. Hukum dalam ilmu sosial berarti beberapa keteraturan yang fundamental yang dapat diterapkan kepada hakekat manusia. Dalam ilmu alam, hukum gravitasi umpamanya merupakan contoh yang sering dipakai dalam menjelaskan ramalan tersebut. Proyeksi. Bentuk ramalan yang lain dapat didasarkan atas ekstrapolasi atau proyeksi. Ramalan seperti ini mempelajari kejadian terdahulu dan membuat pernyataan tentang hari depan didasarkan kejadian tersebut. Struktur. Ramalan juga dapat didasarkan atas struktur dari benda atau in-tuisi atau manusia yang bersangkutan. institusional. Masih dalam hubungannya dengan struktur adalah ramalan | yang berdasarkan cara suatu institusi beroperasi.
Masalah. Cara ramalan yang lain adalah didasarkan pada penentuan masalah apa yang dihadapi oleh manusia dan masyarakatnya. Tahap. Terdapat cara lain untuk meramalkan sesuatu yang berdasarkan tahap dari suatu perkembangan yang berurutan. Utopia Dalam cara semacam ini, ilmuwan membayangkan apa yang mungkin terdapat atau terjadi berdasarkan pengetahuan yang kita ketahui sekarang.
Laporan Hasil Penalaahan Keilmuan
Aspek yang lain, yakni terakhir, dari sistem ilmu untuk tiap hasil karya keilmuan adalah penulisan laporan dengan persyarat¬an minimum: yakni kejujuran mutlak, jelas serta mudah difahami, cukup terperinci sehingga orang lain dapat menilai karya tersebut, serta pengakuan terhadap idea orang lain.
selengkapnya...

APAKAH SEBENARNYA BERPIKIR

J.M. Bochenski


ADALAH TERHADAP BERPIKIR, jauh lebih banyak dari pengamatan, kita merasa berhutang budi dalam kemajuan yang sangat mengesan-kan dari ilmu, yang menyebabkan perombakan wajah dunia dan struktur kehidupan. Kiranya ada harganya bila kita merenung sedikit tentang proses berpikir ini. Apakah sebenarnya berpikir? Bagaimana mungkin bahwa berpikir membantu kita dalam mengetahui sesuatu? Bagaimana pengetahuan itu dibentuk dan jalan manakah yang ditempuh penelitian keilmuan? Dan akhirnya, sebuah pertanyaan yang paling penting: Apa¬kah nilai semua kegiatan ini? Dapatkah kita mempercayainya? Dapatkah kita mempercayai apa yang dihasilkannya dan membiarkan dia me-mimpin kita lewat pengetahuan keilmuan? Saya akan mencoba mem-bahas secara singkat beberapa pertanyaan yang sangat mendalam ini.

Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara berpikir yang berdisiplin, di mana seseorang yang berpikir sungguh-sungguh takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu yang diarahkan kepada pengetahuan.

Akan tetapi bagaimana pemikiran seperti itu akan membuahkan penge¬tahuan bagi kita? Seseorang mungkin berpikir bahwa obyek yang ingin kita ketahui sebenarnya sudah ada, sudah tertentu (given), jadi di sini tak diperlukan adanya pemikiran, yang harus dilakukan hanyalah sekedar membuka mata kita atau memusatkan perhatian kita terhadap obyek tersebut. Kalau ternyata obyek yang ingin kita ketahui itu belum tertentu (non-given) maka kelihatannya berpikir tidak akan pernah mendekatkan kita kepadanya. Namun semuanya-itu ternyata tidak benar.

Fenomenologi — paling tidak dalam tulisan Husserl yang mula-mula — adalah metode yang mengusahakan untuk me-mahami esensi dari obyek yang tertentu dengan analisis yang kurang lebih sama seperti apa yang telah kita kemukakan di atas.

Tetapi, di dalam kegiatan keilmuan, cara berpikir seperti ini memegang peranan yang kurang penting. Di sana titik berat terletak dalam usaha un¬tuk memahami obyek yang belum ditetapkan dan cara berpikir seperti ini dinamakan penalaran (reasoning). Dalam hubungan ini, saya ingin menandaskan sesuatu yang penting. Seperti yang telah saya katakan, hanya terdapat dua kemungkinan dalam hubungan dengan obyek yang ingin kita ketahui: apakah obyek itu telah ditetapkan atau belum. Jika obyek itu te¬lah ditetapkan maka yang kita lakukan hanyalah melihatnya dan meng-gambarkannya; jika hal itu belum ditetapkan, maka kita tak punya pilihan lain kecuali menemukan sesuatu hal tentang obyek tersebut yakni dengan jalan menalar. Tak ada jalan yang ketiga ke arah pengetahuan. Wajar saja bila seseorang dapat mempercayai sesuatu namun kepercayaan bukanlah pengetahuan. Kita hanya dapat mengetahui dengan jalan mengamati atau menalar.

penalaran harus memenuhi dua persyaratan: yakni pertama, harus ada-nya premis tertentu yang berupa pernyataan yang kebenarannya telah di¬ketahui atau dapat diterima; kedua; harus mempunyai cara dalam me-lakukan penarikan kesimpulan (inferem). Umpamanya, dalam rangka uri-tuk mendeduksikan bahwa "jalan adalah basah" maka saya harus mem¬punyai dua premis seperti: "jika hari hujan maka jalan adalah basah", dan "sekarang sedang turun hujan". Di samping itu saya harus mengenal atur¬an yang oleh ahli logika dinamakan modus ponendo ponens yang secara umum berarti: bahwa jika terdapat kalimat yang memenuhi persyaratan tertentu — kalimat yang dimulai dengan "jika" — dan anteseden-nya, maka konsekuensinya dapat diterima. Kaum Stoik kuno merumuskan hal ini sebagai berikut: Jika yang pertama, maka yang kedua; tetapi yang pertama, oleh sebab hit yang kedua. Logika, atau lebih tepat lagi logika formal, ada¬lah pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan seperti di atas.

Terdapat dua bentuk aturan yang berbeda satu sama lain. Yang per¬tama adalah aturan yang pasti; artinya, bila peraturan ini diterapkan dengan baik maka hasilnya adalah benar. Contoh dari peraturan ini ada¬lah modus ponendo ponens yang disebutkan terdahulu. Contoh lain ada¬lah silogisme yang terkenal, di mana seorang melakukan deduksi sebagai berikut: Jika semua ahli logika adalah fana, dan Lord Russel adalah se¬orang ahli logika, maka Lord Russell adalah fana. Cara yang kedua ada¬lah aturan yang tidak pasti, dan sayangnya ilmu lebih banyak mempergunakan aturan ini dibandingkan dengan peraturan yang pasti.
Hal ini merupakan sesuatu yang penting, yang harus kita pelajari secara lebih saksama. Semua aturan yang pasti pada dasarnya merupakan

Tetapi dalam kehidupan, terutama dalam ilmu, kita mengambil ke¬simpulan hampir selalu dengan cara seperti ini. Apa yang dinamakan in-duksi, umpamanya, adalah proses penarikan kesimpulan seperti ini. Da¬lam induksi kita mempunyai premis seperti "beberapa individu ber-tingkah laku seperti anu". Dari logika kita tahu bahwa jika semua indi¬vidu bertingkah laku seperti anu maka beberapa individu akan bertingkah laku seperti anu pula. Karena beberapa individu bertingkah laku seperti anu, maka berdasarkan hal ini, kita lalu menarik kesimpulan, bahwa semua individu bertingkah laku seperti anu


Pertimbangan-pertimbangan ini menyebabkan kita mempunyai sikap yang lebih jelas terhadap ilmu. Prinsip-prinsip dari.sikap ini dapat di-formulasikan sebagai berikut: Pertama, dari segi praktis, ilmu —jika hal itu merupakan ilmu yang sebenarnya — jelas merupakan sesuatu yang paling baik dari yang kita punyai. Ilmu adalah sangat berguna.
Kedua, bahkan dilihat secara teoritis, kita hampir tak punya sesuatu yang lebih baik daripada ilmu dalam hal menjelaskan alam. Ilmu mem-berikan kepada kita, sebagai tambahan terhadap uraian tentang gejala yang diamati, pernyataan yang bersifat peluang. Tak mungkin kita peroleh sesuatu yang lebih dari ini di mana pun juga.
Ketiga, sikap ini diturunkan dari kaidah, bahwa orang yang berpikir harus memihak ilmu dan menentang kekuasaan manusia, bila terjadi suatu kontradiksi antara mereka. Kontradiksi ini mungkin terjadi umpamanya bila ilmu bertentangan dengan ideologi; yakni argumentasi yang disusun berdasarkan kekuasaan, baik berupa kekuasaan manusia, sosial maupun kekuasaan-fciekuasaan lainnya. Karena alasan ini maka praktis semua ahli
falsafah di seluruh dunia harus menolak dan mengutuk ideologis komunis berdasarkan penolakan Marx, Engels dan Lenin terhadap ilmu. Penolakan ini adalah irrasional dan tak dapat diterima.
Keempat, karena ilmu untuk sebagian besar hanya memberikan pernyataan yang bersifat mungkin, maka bisa terjadi bahwa hal itu lantas di-tolak berdasarkan sesuatu yang pasti. Ilmu bukanlah sesuatu yang pasti, dan jika kita menemukan sesuatu yang pasti di mana penemuan itu menentang apa yang dipertahankan ilmu, maka kita harus memihak kepada sesuatu yang pasti tersebut dan menentang teori keilmuan.
Kelima, ilmu hanya mempunyai kemampuan dalam bidangnya sendiri. Sayang sekali, seperti apa yang sering terjadi, bahkan ilmuwan yang pen-ting memberikan pernyataan terhadap sesuatu yang sama sekali tidak ada hubun
selengkapnya...

KAIDAH-KAIDAH ILMU YANG MASUK AKAL: SUATU DONGENG TENTANG PASANG

W.M. Davis



Empat Kaidah Prosedur Ilmu
empat kaidah mental yang terdapat dalam satu individu yang terlatih dalam ilmu. yang meng-gunakan kekuatan pengamatannya untuk menemukan fakta-fakta alam dan kecerdasannya untuk mengajukan berbagai hipotesis yang mungkin untuk'menjelaskan fakta-fakta tersebut. Kemudian dengan mempergunakan logikanya dalam berpikir dia melakukan deduksi dari setiap hipotesis, sesuai dengan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya, tentang apa yang akan terjadi jika hipotesis itu benar. Karakteristik yang lain adalah pembawaannya yang tidak berpihak dalam pengujian untuk memutuskan hipotesis yang mana, jika memang ada, yang kompeten untuk menjelas¬kan fakta-fakta tersebut. Keempat kemampuan mental ini yang sering berperan dalam urutan-urutan yang tidak teratur saling memerlukan satu sama lain. Penggantian deduksi mental oleh percobaan kadang-kadang perlu untuk beberapa masalah tertentu, di mana setelah pengajuan hipotesis diperlukan kemampuan untuk menciptakan kondisi-kondisi buatan dalam rangka menguji berbagai konsekuensi dari hipotesis ter¬sebut. Walaupun begitu deduksi mental tetap dilakukan selama percoba¬an atau sesudahnya, karena itu maka percobaan dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari empat kaidah mental tersebut. Ketidaksempurnaan Ilmu
Kesalahan yang sering terjadi terutama dilakukan dalam menarik kesimpulan yang berlaku umum dari pengamatan yang terbatas. Kesalahan lainnya sering terjadi waktu pengujian di mana terdapat kecenderungan untuk menerima suatu kesimpulan yang tidak teruji dengan sempurna. Demikian juga perasaan enggan untuk mengubah sebuah kesimpulan yang telah kita terima namun harus digugurkan kembali disebabkan ditemukannya bukti-bukti yang barui
Kemampuan untuk memperbaiki kesalahan dalam pengujian ini biasanya didapat dari pengalaman.
Hakekat Berteori
Terdapat suatu prasangka yang populer terhadap penggunaan kecakapan dalam menemukan sesuatu yang baru yang biasa disebut ber¬teori. Berteori itu sendiri, bila hanya sekedar berteori, jelas hanya mem¬punyai arti yang kecil, tetapi berteori secara terlatih yang dihubungkan dengan pengamatan yang terlatih pula adalah mutlak bagi kemajuan ke¬ilmuan. Alasan utama untuk berteori disebabkan karena kemampuan pengamatan kita yang sangat terbatas.
Kita menyadari bahwa banyak fakta-fakta alam yang tak dapat diamati secara langsung, baik karena gejala itu tak dapat kita tangkap, atau karena dimensinya sangat kecil, maupun karena hal itu sudah lama terjadi dan tak akan berulang kembali. Namun jelas bahwa semua gejala ini ada seperti juga gejala lainnya yang dapat diamati. Jika kita benar-benar ingin me-

mahami alam, maka gejala-gejala yang secara langsung tidak dapat kita tangkap dengan indera kita yang terbatas itu harus dijaring dengan cara l^n, dan cara yang biasa dilakukan adalah dengan berteori.

Hakekat Pembuktian Keilmuan
Siapakah yang 'dapat membuktikan kebenaran ke¬simpulan itu secara mutlak? Walaupun begitu seseorang menerima ke¬benaran yang terkandung di dalamnya, karena berdasarkan penelaahan yang wajar, pernyataan itu mempunyai peluang yang besar untuk benar. Kiranya jelas bahwa hal itu bukanlah disebabkan oleh masalah yang diselidikinya sebab bidang-bidang kegiatan keilmuan adalah beragam-ragam sekali. Sifat itu tidak terletak dalam pokok permasalahan yang diselidiki namun terletak dalam metode yang dipakainya. Sifat yang sama dari metode-metode itu adalah sifat masuk akal, yakni semangat untuk menyelidiki secava bebas, di mana tak terdapat pernyataan apa pun yang diterima tanpa pengkajian yang saksama, di mana kesimpulan yang ditemukan terus dijelajah ke mana pun dia mengarah, dan kesimpulan sebelumnya akan dirubah jika ditemukan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kesimpulan tersebut. Oleh sebab itu ilmu tidaklah bersifat akhir maupun tak mungkin salah. Ilmu adalah pertumbuhan dan pertumbuhan itu jauh dari selesai . . .
selengkapnya...

FAKTA, KEPERCAYAAN, KEBENARAN, DAN PENGETAHUAN

Fakta
"Fakta" seperti apa yang saya maksudkan, hanya dapat didefinisikan secara luas. Segala sesuatu yang berada di dunia saya sebut sebagai suatu "fakta". Matahari adalah suatu fakta; Caesar menyebrangi Rubicon adalah suatu fakta; jika saya mendapat suatu sakit gigi, sakit gigi saya adalah suatu fakta. Jika saya membuat suatu pernyataan, perbuatan saya adalah suatu fakta, dan jika hal ini benar maka terdapat suatu fakta lebih lanjut yang mendukung kebenaran ini, tetapi kalau tidak maka hal itu adalah'salah. Penjagal berkata, "Jualan habis dan itulah fakta", namun segera setelah itu, seorang langganan yang disenanginya datang dan dia memperoleh sekerat daging anak domba dari bawah meja. Di sini penjagal itu menceriterakan dua kebohongan, yang pertama dalam mengatakan bahwa dagangannya terjual habis dan yang kedua dalam mengatakan bahwa dagangannya terjual habis adalah suatu fakta. Fakta adalah apa yang mem¬buat pernyataan itu betul atau salah.

Saya maksudkan dengan suatu "fakta" adalah sesuatu yang ada, apakah tiap orang berpikir demikian atau tidak. Jika saya memperlihadtan jadwal kereta api dan menemukan bahwa ada sebuah kereta api menuju Edin¬burgh pada pukul 10 pagi, kemudian, jika jadwal itu benar, maka ter¬dapat sebuah kereta api yang sungguh-sungguh pergi yang merupakan suatu "fakta". Pernyataan dalam jadwal itu sendiri adalah suatu "fakta", apakah itu benar atau salah, tetapi ia hanya menyatakan suatu fakta bila ia benar, dalam hal ini jika sungguh-sungguh terdapat kereta api. Kebanjanyakan fakta adalah bebas dari kemauan kita; itulah sebabnya mengapa mereka sering disebut "keras", "keras kepala", atau "tak dapat dihindarkan"- Fakta-fakta fisik kebanyakan bersifat bebas tidak hanya dari kemau¬an kita tetapi juga bahkan dari eksistensi kita.
.
Kepercayaan
"Kepercayaan", yang berikutnya akan kita kaji, memiliki pengertian samar yang tak terelakkan, yang disebabkan oleh perkembangan mental yang terus-menerus dari amuba sampai homo sapiens. Dalam bentuknya pa¬ling maju, bentuk yang paling dipertimbangkan oleh para filsuf, kepercayaan diperlihatkan dengan semacam pernyataan, dalam kalimat setelah Anda membaui sejenak, Anda berteriak, "Astaga! Rumah terbakar." Atau, bila merancang suatu piknik, Anda berkata, "Lihatlah awan-awan itu. Hari akan hujan". Atau, dalam sebuah kereta api, Anda mencoba menekan optimisme penumpang lain dengan mengatakan, "Perjalanan ter-akhir saya dengan kereta ini ternyata terlambat tiga jam". Pernyataan demikian, jika Anda memang tidak berbohong, menyatakan kepercayaan.

saya mengusulkan untuk memperlakukan kepercayaan sebagai sesuatu yang pra-intelektual, dan dapat diperlihatkan dalam perilaku binatang. Saya cenderung untuk berpikir bahwa, kadang-kadang suatu keadaan badani yang murni mungkin patut dinamakan "kepercaya¬an". Sebagai contoh, jika Anda berjalan ke dalam kamar Anda di dalam kegelapan dan seseorang telah meletakkan sebuah kursi pada tempat yang tidak biasa, Anda mungkin akan membenturnya, karena badan Anda per-caya bahwa tidak ada kursi di tempat itu. Satu karakteristik dari suatu kepercayaan adalah bahwa ia memiliki pertalian dengan dunia luar (dalam pengertian yang menyangkut suatu pertalian ke luar" tidak hanya pada pengalaman sekarang dari individu tetapi juga pada keseluruhan pengalamannya).


.
Saya sekarang menginjak kepada definisi "kebenaran1 dan "kesalah-an". Beberapa hal tertentu adalah jelas. Kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan, dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dapat disebut "benar" atau "salah", meskipun tak seorang pun mem-percayainya, asalkan jika kalimat itu dipercaya, benar atau salahnya keper¬cayaan itu terletak pada masalahnya.

Kepercayaan tentang apa yang tidak pernah dialami, seperti ditunjuk-kan dalam diskusi di atas, tidaklah berkenan dengan individu yang tidak pernah mengalami, tetapi berkenaan dengan kelas di mana tidak Setiap kepercayaan yang tidak semata-mata merupakan dorongan untuk bertindak pada hakekatnya merupakan gambaran, digabung dengan suatu perasaan yang mengiakan atau menidakkan; di mana dalam perasaan yang mengiakan hal ini adalah benar bila terdapat fakta yang menggambarkan kesamaan dengan yang diberikan sebuah prototipe terhadap bayangan, sedangkan dalam hal perasaan yang menidakkan, ia adalah benar bila tak terdapat fakta seperti itu. Suatu kepercayaan yang tidak benar disebut salah. Inilah suatu definisi tentang "kebenaran" dan "kesalahan".

PENGETAHUAN
Adalah jelas bahwa pengetahuan adalah suatu subkelas dari kepercaya¬an yang benar: setiap hal mengenai pengetahuan merupakan hal menge¬nai kepercayaan yang benar tetapi tidak sebaliknya. Adalah sangat mudah untuk memberikan contoh mengenai kepercayaan yang benar dan bukan merupakan pengetahuan. Ada seseorang yang memperhatikan sebuah jam yang tidak berjalan, meskipun ia berpikir bahwa jam itu berjalan, di mana kebetulan ia melihat jam itu pada waktu yang tepat; orang ini memper-oleh suatu kepercayaan yang benar tentang waktu, tetapi tidak dapat


Sifat apa di samping kebenaran harus dimiliki suatu kepercayaan agar tergolong sebagai pengetahuan? Orang yang polos akan mengatakan haruslah terdapat bukti-bukti yang masuk akal untuk menyokong keper¬cayaan. Ditinjau dari segi akal sehat maka hal ini kebanyakan adalah benar terutama di mana keragu-raguan timbul dalam hal-hal praktis, tetapi jika hal ini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mencakup keseluruhan masalah maka hal ini adalah tidak memadai.

"Bukti", pada satu pihak, terdiri dari fakta yang diterima sebagai sesua¬tu yang tidak diragukan lagi, dan di lain pihak, adalah prinsip-prinsip ter¬tentu dengan apa kesimpulan ditarik dari fakta. Adalah jelas bahwa proses ini adalah tidak memuaskan kecuali kalau kita mengetahui fakta dan prin¬sip tentang penarikan kesimpulan yang tidak hanya berdasarkan bukti; karena kalau tidak maka kita akan terlibat dalam suatu lingkaran tak berujung pangkal atau suatu kemunduran yang tidak berakhir. Oleh sebab itu kita harus memusatkan perhatian kita pada hal-hal mengenai fakta dan prinsip-prinsip penarikan kesimpulan

Secara umum terdapat tiga cara untuk menanggulangi masalah-masalah dalam mendefinisikan "pengetahuan", Yang pertama, dan yang tertua, adalah dengan menitik beratkan pada konsep tentang bukti yang pasti (self-evident). Yang kedua adalah dengan cara melenyapkan perbedaan antara premise dari kesimpulan, dan menyatakan bahwa pengetahuan merupakan kepercayaan yang seluruhnya bersifat koheren. Yang ketiga dan paling drastis adalah untuk meninggalkan sama sekali konsep tentang "pengetahuan" dan menggantikannya dengan "kepercayaan-kepercayaan yang mendorong sukses", dan di sini "sukses" mungkin dapat ditafsirkan secara biologis.

Teori koherensi dan teori instrumentalisme biasanya dikemukakan oleh para pendukungnya sebagai teori kebenaran. Karena dalam hal ini saya mempunyai beberapa keberatan yang telah saya ajukan di sana-sini. Saya menganggap teori-teori itu tidak sebagai teori kebenaran tetapi sebagai teori pengetahuan. Dalam bentuk ini ada beberapa hal yang ingin saya ajukan. •

Sehubungan dengan teori yang menyatakan bahwa kita harus menggantikan "pengetahuan" dengan konsep tentang "kepercayaan yang mendorong sukses", kiranya cukup untuk dikemukakan bahwa hal ini diturunkan dari suatu kaidah yang landasannya bersifat setengah had. Di sini dianggap bahwa kita mengetahui (dalam pengertian kolot) kepercayaan apa yang mendorong sukses, karena jika kita sanggup mengetahui hal ini maka teori tersebut tidak berguna dalam praktek, padahal tujuannya adalah menggunakan praktek dengan mengorbankan teori. Dalam kenya-taannya, ternyata sering kali sangat sukar untuk mengetahi kepercayaan yang mendorong sukses tersebut, meskipun kita memiliki suatu definisi yang memadai apa yang disebut "sukses".
Kita diarahkan pada kesimpulan bahwa hakekat pengetahuan adalah bersifat derajat. Derajat tertinggi ditemukan dalam fakta persepsi, dan dalam keyakinan yang diberikan oleh argumentasi yang sangat sederhana. Derajat paling tinggi berikutnya adalah dalam ingatan yang terang. Bila sejumlah kepercayaan adalah masing-masing sampai tahap tertentu dapat dipercaya, mereka akan lebih bisa dipercaya lagi bila mereka ternyata ditemukan bersifat koheren dalam keseluruhan yang logis. Prinsip-prinsip umum tentang penarikan kesimpulan, apakah itu deduktif biasanya tidak sejelas contoh-contohnya, dan merupakan penjabaran secara psikologis dari apa yang dapat diketahui dari contoh-contoh tersebut. Kiranya ja-ngan dilupakan bahwa pertanyaan "Apa yang kita maksudkan dengan pengetahuan?" bukanlah sesuatu yang bisa dijawab dengan pasti dan tidak samar-samar, seperti juga menjawab pertanyaan seperti "Apa yang dimak-sud dengan botak?".

Bertrand Russell
selengkapnya...

PIKIRAN MANUSIA YANG TAK TERTUNDUKAN

Manusia selama perjalanannya telah banyak mengalami perubahan berbeda dengan makhluk lainnya yang utama yang membedakan adalah bahwa Manusia Berfikir demi kelangsungan hidup mereka. Otak manusia bekerja seperti jantung yang tak berhenti berdenyut, siang dan malam, sejak kecil sampai renta. dalam jaringan yang besarnya kurang dari satu setengah kilogram itu, tercatat dan tersimpan berbilyun-bilyun ingatan,. kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan, dan ketakutan.

Otak manusia yang menakjubkan, yang terbentuk sel demi sel dan refleks demi refleks, diperkuat oleh dua kekuatan yang tak kurang menakjubkan,yakni kemampuan berbicar dan tangan manusia yang perkasa. Perkembangan yang berjalan sangat lambat namun mengesankan ini, lewat proses belajar dan belajar, mengandung hal-hal yang memilukan dan memukau.

Salah satu kejadian penting dalam sejarah peradaban manusia adalah berkembangnya kebudayaan Yunani 1000 tahun SM. Terdapat kebudaya-an-kebudayaan yang lebih kaya dan lebih agung sebelum ini. Namun hanya bangsa Yunani yang biasa berpikir, secara sungguh-sungguh dan te-rus-menerus, berdasarkan hakekat pengertian manusia.
Orang Yunani percaya bahwa semua peradaban dan kemajuan manusia haruslah didasarkan kepada kebahagiaan. hidup dan memperkaya khazanah pemikiran manusia. Bangsa-bangsa lain berpendapat bahwa peradapan mereka adalah semata-mata bagi tuhan, atau bagi raja-raja yang mulia, atau kekuasaan, kekayaan dan kesenangan.
Efisien, produktif, cerdas, bercitarasa, bersusastera, dan kecuali dalam pemerintahan –pemerintahan yang buruk, penuh dengan kebebasan dengan kebebesan spritual dan pribadi, merupakan ciri-ciri dari kebudayaan waktu itu, yang dalam banyak hal merupakan kehidupan sosial yang paling berhasil yang pernah kita lihat.

Mengapa kebudayaan yang teramat indah ini runtuh, tidak seorang pun tahu dengan tepat. Sungguhpun demikian, satu hal adalah pasti, bahwa bagian sebelah barat, yakni daerah Romawi, yang runtuh untuk pertama kali; sedangkan bagian sebelah timur, daerah berbahasa Yunani, masih sanggup mempertahankan diri di bawah serangan yang hampir terus-menerus selama beribu tahun berikutnya.


Jalan ke Arah Keagungan

Adalah sangat membesarkan hati bila kita menatap kembali sejarah proses belajar, dan melihat betapa seringnya pemikiran-pemikiran agung bermunculan di daerah-daerah sepi, di tengah suku-suku biadab dan kurun yang penuh berbagai tindasan dan kekerasan. Alangkah indahnya, dari zaman penuh pertumpahan darah yang menggemakan rintih dan lagu duka yang sedih, muncul pemikiran yang tenang dan agung, mempelajari alam dan menulis puisi; atau kita temukan, di antara kaum borjuis yang malas atau petani penuh daki tanah yang muram, suatu kecerdasan yang tinggi dalam abstraksi bilangan, penemuan-penemuan baru yang unik, atau suatu penafsiran yang sistematis tentang alam.
Contohnya Buddha. Demikian juga Sequoyah, seorang Indian Cherokee, seorang diri dia menciptakan bahasa tulisan untuk rakyatnya..

Disebabkan oleh faktor kebetulan yang membahagiakan, atau usaha yang mujur, dia mampu menggabungkan tenaga-tenaga pemikiran-nya menjadi sesuatu yang baru, suatu sintesis kreatif.
Suatu hal yang pasti mengenai karya besar pemikiran adalah, bahwa banyak di antara karya-karya besar tersebut, diciptakan oleh orang-orang yang memulai kehidupannya sebagai orang biasa, bahkan dalam keadaan tidak menyenangkan, namun kemudian mereka berkembang sedemikian jauh sehingga melampaui asal usulnya.

Isaac Newton adalah putera seorang petani Lincolnshire. Tidak seperti beberapa ahli matematika lainnya, bahkan ia tidak cemerlang di masa kecilnya. Baru setelah beberapa tahun ia belajar di Cambridge, mulailah tampak kejeniusannya memercik. Seorang anak lelaki biasa, yang dilahir-kan dari perkawinan seorang lelaki Itali dengan seorang gadis dusun, Socrates adalah seorang tukang batu di sebuah kota yang penuh dengan pemborong.

Tak Ada Jalan Lain
Bagaimana pemikir-pemikir besar itu muncul? Mereka tidak tumbuh seperti pepohonan. Mereka tidak dapat dimuliakan seperti hewan-hewan pilihan. Namun kita mengenai dua cara untuk memupuk mereka selagi bertumbuh.
Yang pertama adalah memberi mereka tantangan dan rangsangan. Letakkan masalah-masalah di hadapan mereka. Hasilkan sesuatu untuk dipikirkan mereka. Diskusikan tiap tahap pemikiran mereka. Usulkan ke-pada mereka agar melakukan berbagai percobaan Minta mereka untuk mengungkapkan apa-apa yang tersembunyi.
Cara kedua adalah membawa mereka agar mengenai pemikiran yang menonjol. Adalah tidak cukup bagi seorang anak yang pandai hanya mengenai teman-teman, guru-guru dan orang tuanya. la ha-rus mengenai mereka yang benar-benar menonjol, orang-orang besar yang abadi.
Cara terbaik menuju keagungan adalah bergaul dengan orang-orang besar.

Bayangan Zaman Kegelapan
Kita mengetahui bahwa pemikiran manusia sekarang mampu melaku¬kan jauh lebih banyak pekerjaan dibandingkan dengan apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Seorang manusia normal menggunakan hampir seluruh otot-ototnya selama kehidupan dewasanya, tetapi dia meninggalkan daerah yang luas, mungkin dua pertiga dari otaknya, yang sama sekali tidak pernah dipergunakan. Secara individual kebanyakan manusia ada¬lah pemalas, kecerdasan yang tak cemerlang dan penuh petualangan yang dimilikinya sewaktu muda, tak pernah lagi dipergunakan selama 70 tahun dari sisa hidupnya. Secara keseluruhan, perkembangan dua bilyun pe¬mikiran di bumi ini dihambat oleh tiga penyebab: kemiskinan, kesalahan, hambatan yang disengaja.

Finlandia merupakan salah satu negara termiskin di Eropa, namun ia mempunyai sekolah-sekolah yang sangat baik, dan warga negaranya jauh lebih berpendidikan dibandingkan dengan kebanyakan negara-negara kaya. Skotlandia tidak pernah kaya; walaupun begitu, ia menunjang empat universitas sejak zaman Renaissance.
Yang paling mencengangkan, mungkin, adalah ketabahan bangsa Yahudi, yang selama generasi demi generasi tinggal di ghetto-ghetto miskin di bagian timur Eropa, di mana mereka tetap mempertahankan sistem persekolahannya sendiri, dan mewariskan buku-bukunya dengan cermat selama berabad-abad.

Terdapat tiga kesalahan yang menyebabkan lemahnya pendidikan masa kini: Pertama-tama, adalah gagasan yang keliru bahwa sekolah diadakan terutama untuk melatih anak laki-laki dan perempuan untuk mampu bergaul, "berintegrasi dengan kelompoknya", memperlengkapi mereka dengan ketrampilan kehidupan sosial", "mampu menyesuaikan diri dengan keluarga dan masyarakat."

Kesalahan kedua adalah terletak pada kepercayaan bahwa proses pen¬didikan terhenti sama sekali setelah kedewasaan rnulai. Kesalahan yang ketiga terletak pada suatu gambaran yang salah bahwa proses belajar dan mengajar haruslah memperlihatkan hasil yang segera, yang membawa keuntungan, dan membawa kita ke arah keberhasilan..
Hambatan Yang Disengaja. Telah sering terjadi, bahkan hari ini, terdapat mereka yang mencanangkan bahwa sekumpulan pengetahuan tertentu harus dimusnahkan, atau sedemikian dibatasinya sehingga menjadi sa¬ngat rahasia — bukan disebabkan karena fakta-fakta yang dikemukakan-nya keliru, atau disebabkan rasa takut bahwa hal itu akan mempengaruhi moral orang yang tidak bertanggung jawab, namun disebabkan bahwa jika hal itu diketahui orang secara luas, pengetahuan itu akan merupakan
bahaya bagi golongan, organisasi politik, organisasi agama atau organisa si sosial tertentu.

Perjalanan Pikiran. Kehidupan spiritual manusia menghadapi dua bahaya di mana keduanya adalah berbahaya dan mendesak. Yang satu adalah kemalasan dan yang lainnya adalah tirani.
Lebih mudah menghancurkan umat manusia secara Fisik, dengan sebuah kuman atau ledakan, daripada menghancurkannya secara mental. Karena manusia mampu menyesuaikan diri, dan daya penyesuaian ini ada¬lah kemampuan untuk mengubah dan mengembangkan kekuatan pikiran-nya.

Gilbert Higher
selengkapnya...

Copyright © 2013 Dedi Iskamto | Design by Ais