Fakta
"Fakta" seperti apa yang saya maksudkan, hanya dapat didefinisikan secara luas. Segala sesuatu yang berada di dunia saya sebut sebagai suatu "fakta". Matahari adalah suatu fakta; Caesar menyebrangi Rubicon adalah suatu fakta; jika saya mendapat suatu sakit gigi, sakit gigi saya adalah suatu fakta. Jika saya membuat suatu pernyataan, perbuatan saya adalah suatu fakta, dan jika hal ini benar maka terdapat suatu fakta lebih lanjut yang mendukung kebenaran ini, tetapi kalau tidak maka hal itu adalah'salah. Penjagal berkata, "Jualan habis dan itulah fakta", namun segera setelah itu, seorang langganan yang disenanginya datang dan dia memperoleh sekerat daging anak domba dari bawah meja. Di sini penjagal itu menceriterakan dua kebohongan, yang pertama dalam mengatakan bahwa dagangannya terjual habis dan yang kedua dalam mengatakan bahwa dagangannya terjual habis adalah suatu fakta. Fakta adalah apa yang mem¬buat pernyataan itu betul atau salah.
Saya maksudkan dengan suatu "fakta" adalah sesuatu yang ada, apakah tiap orang berpikir demikian atau tidak. Jika saya memperlihadtan jadwal kereta api dan menemukan bahwa ada sebuah kereta api menuju Edin¬burgh pada pukul 10 pagi, kemudian, jika jadwal itu benar, maka ter¬dapat sebuah kereta api yang sungguh-sungguh pergi yang merupakan suatu "fakta". Pernyataan dalam jadwal itu sendiri adalah suatu "fakta", apakah itu benar atau salah, tetapi ia hanya menyatakan suatu fakta bila ia benar, dalam hal ini jika sungguh-sungguh terdapat kereta api. Kebanjanyakan fakta adalah bebas dari kemauan kita; itulah sebabnya mengapa mereka sering disebut "keras", "keras kepala", atau "tak dapat dihindarkan"- Fakta-fakta fisik kebanyakan bersifat bebas tidak hanya dari kemau¬an kita tetapi juga bahkan dari eksistensi kita.
.
Kepercayaan
"Kepercayaan", yang berikutnya akan kita kaji, memiliki pengertian samar yang tak terelakkan, yang disebabkan oleh perkembangan mental yang terus-menerus dari amuba sampai homo sapiens. Dalam bentuknya pa¬ling maju, bentuk yang paling dipertimbangkan oleh para filsuf, kepercayaan diperlihatkan dengan semacam pernyataan, dalam kalimat setelah Anda membaui sejenak, Anda berteriak, "Astaga! Rumah terbakar." Atau, bila merancang suatu piknik, Anda berkata, "Lihatlah awan-awan itu. Hari akan hujan". Atau, dalam sebuah kereta api, Anda mencoba menekan optimisme penumpang lain dengan mengatakan, "Perjalanan ter-akhir saya dengan kereta ini ternyata terlambat tiga jam". Pernyataan demikian, jika Anda memang tidak berbohong, menyatakan kepercayaan.
saya mengusulkan untuk memperlakukan kepercayaan sebagai sesuatu yang pra-intelektual, dan dapat diperlihatkan dalam perilaku binatang. Saya cenderung untuk berpikir bahwa, kadang-kadang suatu keadaan badani yang murni mungkin patut dinamakan "kepercaya¬an". Sebagai contoh, jika Anda berjalan ke dalam kamar Anda di dalam kegelapan dan seseorang telah meletakkan sebuah kursi pada tempat yang tidak biasa, Anda mungkin akan membenturnya, karena badan Anda per-caya bahwa tidak ada kursi di tempat itu. Satu karakteristik dari suatu kepercayaan adalah bahwa ia memiliki pertalian dengan dunia luar (dalam pengertian yang menyangkut suatu pertalian ke luar" tidak hanya pada pengalaman sekarang dari individu tetapi juga pada keseluruhan pengalamannya).
.
Saya sekarang menginjak kepada definisi "kebenaran1 dan "kesalah-an". Beberapa hal tertentu adalah jelas. Kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan, dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dapat disebut "benar" atau "salah", meskipun tak seorang pun mem-percayainya, asalkan jika kalimat itu dipercaya, benar atau salahnya keper¬cayaan itu terletak pada masalahnya.
Kepercayaan tentang apa yang tidak pernah dialami, seperti ditunjuk-kan dalam diskusi di atas, tidaklah berkenan dengan individu yang tidak pernah mengalami, tetapi berkenaan dengan kelas di mana tidak Setiap kepercayaan yang tidak semata-mata merupakan dorongan untuk bertindak pada hakekatnya merupakan gambaran, digabung dengan suatu perasaan yang mengiakan atau menidakkan; di mana dalam perasaan yang mengiakan hal ini adalah benar bila terdapat fakta yang menggambarkan kesamaan dengan yang diberikan sebuah prototipe terhadap bayangan, sedangkan dalam hal perasaan yang menidakkan, ia adalah benar bila tak terdapat fakta seperti itu. Suatu kepercayaan yang tidak benar disebut salah. Inilah suatu definisi tentang "kebenaran" dan "kesalahan".
PENGETAHUAN
Adalah jelas bahwa pengetahuan adalah suatu subkelas dari kepercaya¬an yang benar: setiap hal mengenai pengetahuan merupakan hal menge¬nai kepercayaan yang benar tetapi tidak sebaliknya. Adalah sangat mudah untuk memberikan contoh mengenai kepercayaan yang benar dan bukan merupakan pengetahuan. Ada seseorang yang memperhatikan sebuah jam yang tidak berjalan, meskipun ia berpikir bahwa jam itu berjalan, di mana kebetulan ia melihat jam itu pada waktu yang tepat; orang ini memper-oleh suatu kepercayaan yang benar tentang waktu, tetapi tidak dapat
Sifat apa di samping kebenaran harus dimiliki suatu kepercayaan agar tergolong sebagai pengetahuan? Orang yang polos akan mengatakan haruslah terdapat bukti-bukti yang masuk akal untuk menyokong keper¬cayaan. Ditinjau dari segi akal sehat maka hal ini kebanyakan adalah benar terutama di mana keragu-raguan timbul dalam hal-hal praktis, tetapi jika hal ini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mencakup keseluruhan masalah maka hal ini adalah tidak memadai.
"Bukti", pada satu pihak, terdiri dari fakta yang diterima sebagai sesua¬tu yang tidak diragukan lagi, dan di lain pihak, adalah prinsip-prinsip ter¬tentu dengan apa kesimpulan ditarik dari fakta. Adalah jelas bahwa proses ini adalah tidak memuaskan kecuali kalau kita mengetahui fakta dan prin¬sip tentang penarikan kesimpulan yang tidak hanya berdasarkan bukti; karena kalau tidak maka kita akan terlibat dalam suatu lingkaran tak berujung pangkal atau suatu kemunduran yang tidak berakhir. Oleh sebab itu kita harus memusatkan perhatian kita pada hal-hal mengenai fakta dan prinsip-prinsip penarikan kesimpulan
Secara umum terdapat tiga cara untuk menanggulangi masalah-masalah dalam mendefinisikan "pengetahuan", Yang pertama, dan yang tertua, adalah dengan menitik beratkan pada konsep tentang bukti yang pasti (self-evident). Yang kedua adalah dengan cara melenyapkan perbedaan antara premise dari kesimpulan, dan menyatakan bahwa pengetahuan merupakan kepercayaan yang seluruhnya bersifat koheren. Yang ketiga dan paling drastis adalah untuk meninggalkan sama sekali konsep tentang "pengetahuan" dan menggantikannya dengan "kepercayaan-kepercayaan yang mendorong sukses", dan di sini "sukses" mungkin dapat ditafsirkan secara biologis.
Teori koherensi dan teori instrumentalisme biasanya dikemukakan oleh para pendukungnya sebagai teori kebenaran. Karena dalam hal ini saya mempunyai beberapa keberatan yang telah saya ajukan di sana-sini. Saya menganggap teori-teori itu tidak sebagai teori kebenaran tetapi sebagai teori pengetahuan. Dalam bentuk ini ada beberapa hal yang ingin saya ajukan. •
Sehubungan dengan teori yang menyatakan bahwa kita harus menggantikan "pengetahuan" dengan konsep tentang "kepercayaan yang mendorong sukses", kiranya cukup untuk dikemukakan bahwa hal ini diturunkan dari suatu kaidah yang landasannya bersifat setengah had. Di sini dianggap bahwa kita mengetahui (dalam pengertian kolot) kepercayaan apa yang mendorong sukses, karena jika kita sanggup mengetahui hal ini maka teori tersebut tidak berguna dalam praktek, padahal tujuannya adalah menggunakan praktek dengan mengorbankan teori. Dalam kenya-taannya, ternyata sering kali sangat sukar untuk mengetahi kepercayaan yang mendorong sukses tersebut, meskipun kita memiliki suatu definisi yang memadai apa yang disebut "sukses".
Kita diarahkan pada kesimpulan bahwa hakekat pengetahuan adalah bersifat derajat. Derajat tertinggi ditemukan dalam fakta persepsi, dan dalam keyakinan yang diberikan oleh argumentasi yang sangat sederhana. Derajat paling tinggi berikutnya adalah dalam ingatan yang terang. Bila sejumlah kepercayaan adalah masing-masing sampai tahap tertentu dapat dipercaya, mereka akan lebih bisa dipercaya lagi bila mereka ternyata ditemukan bersifat koheren dalam keseluruhan yang logis. Prinsip-prinsip umum tentang penarikan kesimpulan, apakah itu deduktif biasanya tidak sejelas contoh-contohnya, dan merupakan penjabaran secara psikologis dari apa yang dapat diketahui dari contoh-contoh tersebut. Kiranya ja-ngan dilupakan bahwa pertanyaan "Apa yang kita maksudkan dengan pengetahuan?" bukanlah sesuatu yang bisa dijawab dengan pasti dan tidak samar-samar, seperti juga menjawab pertanyaan seperti "Apa yang dimak-sud dengan botak?".
Bertrand Russell
No comments:
Post a Comment