Saturday, May 12, 2007

APAKAH SEBENARNYA BERPIKIR

J.M. Bochenski


ADALAH TERHADAP BERPIKIR, jauh lebih banyak dari pengamatan, kita merasa berhutang budi dalam kemajuan yang sangat mengesan-kan dari ilmu, yang menyebabkan perombakan wajah dunia dan struktur kehidupan. Kiranya ada harganya bila kita merenung sedikit tentang proses berpikir ini. Apakah sebenarnya berpikir? Bagaimana mungkin bahwa berpikir membantu kita dalam mengetahui sesuatu? Bagaimana pengetahuan itu dibentuk dan jalan manakah yang ditempuh penelitian keilmuan? Dan akhirnya, sebuah pertanyaan yang paling penting: Apa¬kah nilai semua kegiatan ini? Dapatkah kita mempercayainya? Dapatkah kita mempercayai apa yang dihasilkannya dan membiarkan dia me-mimpin kita lewat pengetahuan keilmuan? Saya akan mencoba mem-bahas secara singkat beberapa pertanyaan yang sangat mendalam ini.

Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara berpikir yang berdisiplin, di mana seseorang yang berpikir sungguh-sungguh takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu yang diarahkan kepada pengetahuan.

Akan tetapi bagaimana pemikiran seperti itu akan membuahkan penge¬tahuan bagi kita? Seseorang mungkin berpikir bahwa obyek yang ingin kita ketahui sebenarnya sudah ada, sudah tertentu (given), jadi di sini tak diperlukan adanya pemikiran, yang harus dilakukan hanyalah sekedar membuka mata kita atau memusatkan perhatian kita terhadap obyek tersebut. Kalau ternyata obyek yang ingin kita ketahui itu belum tertentu (non-given) maka kelihatannya berpikir tidak akan pernah mendekatkan kita kepadanya. Namun semuanya-itu ternyata tidak benar.

Fenomenologi — paling tidak dalam tulisan Husserl yang mula-mula — adalah metode yang mengusahakan untuk me-mahami esensi dari obyek yang tertentu dengan analisis yang kurang lebih sama seperti apa yang telah kita kemukakan di atas.

Tetapi, di dalam kegiatan keilmuan, cara berpikir seperti ini memegang peranan yang kurang penting. Di sana titik berat terletak dalam usaha un¬tuk memahami obyek yang belum ditetapkan dan cara berpikir seperti ini dinamakan penalaran (reasoning). Dalam hubungan ini, saya ingin menandaskan sesuatu yang penting. Seperti yang telah saya katakan, hanya terdapat dua kemungkinan dalam hubungan dengan obyek yang ingin kita ketahui: apakah obyek itu telah ditetapkan atau belum. Jika obyek itu te¬lah ditetapkan maka yang kita lakukan hanyalah melihatnya dan meng-gambarkannya; jika hal itu belum ditetapkan, maka kita tak punya pilihan lain kecuali menemukan sesuatu hal tentang obyek tersebut yakni dengan jalan menalar. Tak ada jalan yang ketiga ke arah pengetahuan. Wajar saja bila seseorang dapat mempercayai sesuatu namun kepercayaan bukanlah pengetahuan. Kita hanya dapat mengetahui dengan jalan mengamati atau menalar.

penalaran harus memenuhi dua persyaratan: yakni pertama, harus ada-nya premis tertentu yang berupa pernyataan yang kebenarannya telah di¬ketahui atau dapat diterima; kedua; harus mempunyai cara dalam me-lakukan penarikan kesimpulan (inferem). Umpamanya, dalam rangka uri-tuk mendeduksikan bahwa "jalan adalah basah" maka saya harus mem¬punyai dua premis seperti: "jika hari hujan maka jalan adalah basah", dan "sekarang sedang turun hujan". Di samping itu saya harus mengenal atur¬an yang oleh ahli logika dinamakan modus ponendo ponens yang secara umum berarti: bahwa jika terdapat kalimat yang memenuhi persyaratan tertentu — kalimat yang dimulai dengan "jika" — dan anteseden-nya, maka konsekuensinya dapat diterima. Kaum Stoik kuno merumuskan hal ini sebagai berikut: Jika yang pertama, maka yang kedua; tetapi yang pertama, oleh sebab hit yang kedua. Logika, atau lebih tepat lagi logika formal, ada¬lah pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan seperti di atas.

Terdapat dua bentuk aturan yang berbeda satu sama lain. Yang per¬tama adalah aturan yang pasti; artinya, bila peraturan ini diterapkan dengan baik maka hasilnya adalah benar. Contoh dari peraturan ini ada¬lah modus ponendo ponens yang disebutkan terdahulu. Contoh lain ada¬lah silogisme yang terkenal, di mana seorang melakukan deduksi sebagai berikut: Jika semua ahli logika adalah fana, dan Lord Russel adalah se¬orang ahli logika, maka Lord Russell adalah fana. Cara yang kedua ada¬lah aturan yang tidak pasti, dan sayangnya ilmu lebih banyak mempergunakan aturan ini dibandingkan dengan peraturan yang pasti.
Hal ini merupakan sesuatu yang penting, yang harus kita pelajari secara lebih saksama. Semua aturan yang pasti pada dasarnya merupakan

Tetapi dalam kehidupan, terutama dalam ilmu, kita mengambil ke¬simpulan hampir selalu dengan cara seperti ini. Apa yang dinamakan in-duksi, umpamanya, adalah proses penarikan kesimpulan seperti ini. Da¬lam induksi kita mempunyai premis seperti "beberapa individu ber-tingkah laku seperti anu". Dari logika kita tahu bahwa jika semua indi¬vidu bertingkah laku seperti anu maka beberapa individu akan bertingkah laku seperti anu pula. Karena beberapa individu bertingkah laku seperti anu, maka berdasarkan hal ini, kita lalu menarik kesimpulan, bahwa semua individu bertingkah laku seperti anu


Pertimbangan-pertimbangan ini menyebabkan kita mempunyai sikap yang lebih jelas terhadap ilmu. Prinsip-prinsip dari.sikap ini dapat di-formulasikan sebagai berikut: Pertama, dari segi praktis, ilmu —jika hal itu merupakan ilmu yang sebenarnya — jelas merupakan sesuatu yang paling baik dari yang kita punyai. Ilmu adalah sangat berguna.
Kedua, bahkan dilihat secara teoritis, kita hampir tak punya sesuatu yang lebih baik daripada ilmu dalam hal menjelaskan alam. Ilmu mem-berikan kepada kita, sebagai tambahan terhadap uraian tentang gejala yang diamati, pernyataan yang bersifat peluang. Tak mungkin kita peroleh sesuatu yang lebih dari ini di mana pun juga.
Ketiga, sikap ini diturunkan dari kaidah, bahwa orang yang berpikir harus memihak ilmu dan menentang kekuasaan manusia, bila terjadi suatu kontradiksi antara mereka. Kontradiksi ini mungkin terjadi umpamanya bila ilmu bertentangan dengan ideologi; yakni argumentasi yang disusun berdasarkan kekuasaan, baik berupa kekuasaan manusia, sosial maupun kekuasaan-fciekuasaan lainnya. Karena alasan ini maka praktis semua ahli
falsafah di seluruh dunia harus menolak dan mengutuk ideologis komunis berdasarkan penolakan Marx, Engels dan Lenin terhadap ilmu. Penolakan ini adalah irrasional dan tak dapat diterima.
Keempat, karena ilmu untuk sebagian besar hanya memberikan pernyataan yang bersifat mungkin, maka bisa terjadi bahwa hal itu lantas di-tolak berdasarkan sesuatu yang pasti. Ilmu bukanlah sesuatu yang pasti, dan jika kita menemukan sesuatu yang pasti di mana penemuan itu menentang apa yang dipertahankan ilmu, maka kita harus memihak kepada sesuatu yang pasti tersebut dan menentang teori keilmuan.
Kelima, ilmu hanya mempunyai kemampuan dalam bidangnya sendiri. Sayang sekali, seperti apa yang sering terjadi, bahkan ilmuwan yang pen-ting memberikan pernyataan terhadap sesuatu yang sama sekali tidak ada hubun

No comments:

Copyright © 2013 Dedi Iskamto: APAKAH SEBENARNYA BERPIKIR | Design by Ais