Saturday, May 12, 2007

TENTANG HAKEKAT ILMU

Berpikir adalah hal yang mencirikan hakekat manusia dan karena berpikir-lah dia menjadi manusia. Berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang'akhirnya sampai pada sebuah ke-simpulan yang berupa pengetahuan. Gerak pemikiran ini dalam kegiatan-nya mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek yang sedang kita pikirkan.

Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor dan semen peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan pene-rapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai kom-puter hari ini. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia da-lam menghadapi kenyataan hidup sehari-hari dan beragam buah pe¬mikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah

kebudayaannya. Mes-kipun kelihatannya tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu namun pada hakekatnya upaya manusia dalam meperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga, masalah pokok yakni: Apakah yang ingin kita ketahui? Bagaimanakah cara kita memperolehpengetahuan? Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?

Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber ke¬benaran biasanya tidak mengetahui hakekat ilmu yang sebenarnya. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu, mereka yang tidak mau melihat kenyataan betapa ilmu telah membentuk peradaban seperti apa yang kita punyai sekarang ini, kepicikan seperti itu kemungkinan besar disebabkan karena mereka kurang mengenal hakekat ilmu yang sebenarnya. Menghadapi dua pola pendapat yang ekstrim ini seyogyanya kita harus berdiri di tengah dengan menyadari bahwa meskipun limu memang memberikan kebenaran namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini. Terdapat berbagai sumber kebenaran lain yang memperkaya khazanah kehidupan kita, dan semua kebenaran itu mempunyai manfaat asal diletakkan pada tempatnya yang layak. Ke¬hidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran.

Terdapat tempat masing-masing dalam kehidupan manusia bagi falsafah, seni, agama dan sebagainya di samping ilmu. Semuanya bersifat saling membutuhkan dan saling mengisi, seperti apa yang dikatakan Einstein bahwa "ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh".

Ilmu dan Falsafah

Istilah falsafah mengandung banyak pengertian, namun untuk tujuan pembahasan kita, falsafah diartikan sebagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara ber¬pikir yang mengupas sesuatu se-dalam-dalamnya. Tak satu hal yang bagaimanapun kecilnya terlepas dari pengamatan ke-falsafahan. Tak ada suatu per-nyataan yang bagaimanapun sederhananya yang kita te-rima begitu saja tanpa peng-kajian yang saksama. Falsa¬fah menanyakan segala se¬suatu dari kegiatan berpikir kita dari awal sampai akhir se¬perti dinyatakan oleh Socra¬tes, bahwa tugas falsafah yang sebenarnya bukanlah menja-wab pertanyaan kita namun

Tugas falsafah menurut Socrates (470-399 S.M.) bukan mempersoalkan jawaban yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam kehidupan melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan. Berfilsafat merupakan cara berpikir yang radikal, menyeluruh dan mendasar kemajuan manusia dalam berfalsafah bukan saja diukur dari jawaban yang diberikan namun juga dari pertanyaan yang diajukannya.

Lalu apakah hubungan falsafah dengan ilmu? Seperti diketahui ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ciri-ciri keilmuan ini didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap ketiga pertanyaan pokok seperti telah kita sebutkan terdahulu. Falsafah mempelajari masalah ini sedalam-dalamnya dan hasil pengkajiannya me¬rupakan dasar bagi eksistensi ilmu.

Seperti diketahui pertanyaan pokok itu mencakup masalah tentang apa yang ingin kita ketahui, bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut dan apa nilai kegunaannya bagi kita. Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang "ada". Kemudian bagaimana cara kita mendapatkan pengetahu¬an mengenai obyek tersebut? Untuk menjawab pertanyaan itu maka kita berpaling kepada epistemologi: yakni teori pengetahuan.

Akhirnya dalam menjawab pertanyaan ketiga tentang nilai kegunaan nilaf pengetahuan ter¬sebut maka kita berpaling kepada axiologi: yakni teori tentang nilai. Setiap bentuk buah pemikiran manusia dapat dikembalikan pada dasar-dasar ontologi, epistemologi dan axiologi dari pemikiran yang bersangkutan. Analisis kefalsafahan ditinjau dari tiga landasan ini akan membawa kita ke¬pada hakekat buah pemikiran tersebut. Demikian juga kita akan mempe-lajari ilmu ditinjau dari titik tolak yang sama untuk mendapatkan gam-baran yang sedalam-dalamnya.

Dasar Ontologi Ilmu

Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia. Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari.

Isti¬lah yang kita pakai untuk menunjukkan sifat kejadian yang terjangkau fitrah pengalaman manusia disebut empiris. Fakta empiris adalah fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan panca in-deranya. Ruang lingkup kemampuan panca indera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris.

Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa andaian (asumsi) mengenai obyek-obyek empiris. Asumsi ini perlu, sebab per-nyataan asumtif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan pe¬nelaahan kita. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakannya. Semua teori keilmuan mempu¬nyai asumsi-asumsi ini, baik yang dinyatakan secara tersurat maupun yang tercakup secara tersirat.

Secara lebih terperinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai obyek empiris. Asumsi pertama menganggap obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi yang kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak menga-lami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Determinisme merupakan asumsi ilmu yang ketiga. Kita menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan kejadian yang sama.

Determimsme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi vanK bersifat peluang (probabilistic Statistika merupakan metode yanjr me-nyatakan hubungan probabilistik antara gejala-gejala dalam penelaahan keilmuan. Sesuai dengan peranannya dalam kegiatan ilmu, maka dasar sta-tistika adalah teori peluang. Statistika mempunyai peranan yang menen-tukan dalam persyaratan-persyaratan keilmuan sesuai dengan asumsi ilmu tentang alam. Tanpa Statistika hakekat ilmu akan sangat berlainan

Dasar Epistemologi Ilmu

Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh penge¬tahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses ter¬tentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan me¬tode keilmuan. Karena ilmu merupakan sebahagian dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga disebut pengetahuan keilmuan. Untuk tujuan inilah, agar tidak terjadi ke-kacauan antara pengertian "ilmu" (science) dan "pengetahuan" (Knowledge), maka kita mempergunakan istilah "ilmu" untuk "ilmu penge¬tahuan"

Metode Keilmuan

Ditinjau dari segi perkembangannya, seperti juga semua unsur kebudayaan manusia, ilmu merupakan gabungan dari cara-cara manusia sebelumnya dalam mencari pengetahuan. Pada dasarnya, ditinjau dari sejarah cara berpikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh penge¬tahuan. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, di mana berdasar-kan faham rasionalisme ini, idea tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia dapat mengetahui idea tersebut, namun tidak mencipta-kannya, dan tidak pula mempelajarinya lewat pengalaman. Dengan per-kataan lain, idea tentang kebenaran, yang menjadi dasar bagi pengetahu-annya, diperoleh lewat berpikir secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia. Namun dari manakah kita men-dapatkan kebenaran yang sudah pasti bila kebenaran itu tercerai dari pengalaman manusia yang nyata? Di sinilah kaum rasionalis mulai mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan konsensus yang dapat dijadikan landasan bagi kegiatan berpikir bersama. Tiap orang cenderung untuk percaya kepada kebenaran yang pasti menurut mereka sendiri. Lalu bagai-mana kita bisa sampai kepada suatu konsensus bila hanya berdasarkan apa yang dianggap benar oleh masing-masing?

Oleh sebab itu maka muncullah kemudian suatu pola berpikir lain, yang merupakan cara yang sama sekali berlawanan dengan rasionalisme, yang dikenal dengan nama empirisme. Bosan dengan debat yang tak berke-sudahan, maka kaum empiris menganjurkan agar kita kembali ke alam un¬tuk mendapatkan pengetahuan. Menurut mereka pengetahuan ini tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Lalu berkembanglah apa yang dinamakan pola berfikir empiris.

Seperti biasanya, waktu mengendapkan sifat ekstrim dari tiap-tiap bentuk pemikiran. Pemikiran yang radikal lambat-laun berubah menjadi le¬bih moderat sehingga kompromi lebih mudah tercapai. Demikian juga de¬ngan pendekatan rasional dan empiris yang membentuk dua kutub yang saling bertentangan. Akhirnya kedua belah pihak saling menyadari bahwa rasionalisme dan empirisme mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Timbullah gagasan untuk menggabungkan kedua pen dekatan ini untuk menyusun metode yang lebih dapat diandalkan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Gabungan antara pendekatan ra-sional dan empiris dinamakan metode keilmuan. Rasionalisme memberi-kan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan empirisme ke-rangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran. Kedua metode ini yang dipergunakan secara dinamis menghasilkan pengetahuan yang kon-sisten dan sistematis serta dapat diandalkan, sebab pengetahuan tersebut telah teruji secara empiris.

Kelebihan dan Kekurangan Berpikir secara Keilmuan

kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis setta telah teruji kebenarannya. Faktor pengujian ini meiriberikart karakteristik yang unik kepada proses kegiatan keilmuan, karena dengan demikian maka khazanah teoretis ilmu harus selalu dinilai berdasarkan pengujian empiris. Proses penilaian yang terus-menerus ini mengembangkan suatu mekanisme yang bersifat memperbaiki diri. Suatu kesalahan teoretis cepat atau lambat akan diperbaiki dengan adanya loloh-balik dari pengujian se¬cara empiris. Mekatrisme ini dimungkinkan dengan adanya karakteristik ilmu yang lain, yakni bersifat terbuka dan tersurat (eksplisit). Kegiatan keilmuan tidaklah dilakukan secara misterius, melainkan semuanya ber¬sifat terbuka. Segenap unsur dan langkah yang terlibat di dalamnya di-ungkapkan dengan jelas sehingga memungkinkan semua pihak mengetahui keseluruhan proses yang telah dilakukan. Pengungkapan ini dilaku¬kan secara tersurat dengan mempergunakan berbagai media yang tersedia dalam komunikasi keilmuan. setiap ilmuwan dapat saja kembali menguji semua ilmu yang telah dibuktikan untuk membuktikan kebenaran dari ilmu tersebut.

Beberapa Konsep dalam Ilmu

Tujuan utama kegiatan keilmuan adalah mencari pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk teori, hukum, kaidah, asas dan se-bagainya. Namun harus disadari bahwa derajat kerampatan (generalisasi) dari berbagai obyek penelaahan, sesuai dengan hakekat obyek-obyek ter¬sebut masing-masing, jelas akan berbeda. Lagi pula perbedaannya hanya-lah dalam derajat, bukan dalam hakekat. Gejala-gejala fisika dengan mudah disarikan ke dalam pengetahuan yang mempunyai derajat keram¬patan yang universal, karena hakekat obyek-obyek fisika bersifat seder hana.

Pertanyaan kita sekarang adalah: Bagaimankah kita mendapatkan suatu kesimpulan yang bersifat umum yang dapat diandalkan? Sebelum itu ada baiknya kita mengenal satu istilah yang dinamakan induksi. Induksi ada¬lah suatu cara pengambilan keputusan di mana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus individual. Untuk menggambarkan proses penarikan kesimpulan ini marilah kita lihat sebuah contoh. Kata-kanlah kita ingin melihat akibat pemupukan pupuk tertentu terhadap ting-gi tanaman padi. Secara sepintas lalu kemudian dapat kita amati bahwa pada umumnya padi bertambah tinggi karena pemakaian pupuk tersebut.

Dapat dikatakan bahwa logika merupakan cara menarik kesimpulan dari pre¬mis-premis terdahulu; premis-premis tersebut pada dasarnya merupakan pengetahuan yang telah kita anggap benar. Dengan jalan mempergunakan pengetahuan tersebut sebagai premis mayor dan premis minor maka deduksi akan menghasilkan suatu produk yang berupa pengetahuan baru sebagai kesimpulan. Pengetahuan baru yang dihasilkan ini mempunyai tingkat kebenaran yang sama seperti premis-premis yang menghasilkan-nya. Kalau premis-premisnya benar dan cara penarikan kesimpulannya juga benar maka pengetahuan baru itu benar. Kalau premisnya salah maka tentu saja kesimpulannya juga salah. Sedangkan kalau premisnya benar namun cara menarik kesimpulan salah maka kesimpulannya juga akan salah.

Logika sebagai suatu metode penarikan kesimpulan telah berkembang dengan pesat. Seperti juga dengan semua faktor yang terlibat dalam ke-giatan keilmuan, maka logika secara terus-menerus disempurnakan. Lambang-lambang dipergunakan dalam logika simbulis, dan logika makin lama makin bersifat matematis. Bila dulu dalam berbagai universitas lo¬gika diberikan oleh Departemen Filsafat maka kini logika kebanyakan diberikan oleh Departemen Matematika.

Kegiatan Keilmuan sebagai Sebuah Proses

Sampailah kita sekarang kepada pembicaraan untuk melihat segenap ke¬giatan yang terlibat dalam suatu proses keilmuan secara menyeluruh. Keseluruhan proses ini terikat oleh suatu jalinan hubungan logis yang secara deduktif dapat dijabarkan menjadi langkah-langkah tertentu. Walaupun begitu, patut disadari bahwa hubungan logis ini bersifat dinamis, tidak statis. Langkah-langkah ini tidak bersifat berdiri sendiri dan secara kaku terpaku pada urutan logis tertentu. Penjabaran kegiatan keilmuan menjadi beberapa langkah tertentu adalah lebih dimaksudkan untuk memudah-kan kita dalam menghayati keseluruhan proses yang terjadi. Metode keilmuan merupakan suatu cara berpikir dalam mencari pengetahuan. Namun faktor apakah yang menyebabkan manusia, si Homo sapiens ini, lantas berpikir? Apakah karena nalurinya ataukah

cuma karena kesenangannya memang berpikir? Kalau kita kaji dalam-dalam pertanyaan ini, maka ternyata bahwa bukan itu penyebabnya. Manusia berpikir kalau dia sedang menghadapi masalah. Masalah itu bisa bermacam-macam, dari masalah yang sangat sepele sampai masalah yang sangat mustahil. Ada masalah yang secara mudah dapat dipecahkan dan ada pula yang harus dengan memeras otak. Mungkin pula ada masalah yang tidak dapat dipecahkan. Menghadapi masalah-masalah inilah manusia memusatkan perhatiannya dan tenggelam dalam berpikir.

Kegiatan keilmuan mengenal dua bentuk masalah. Bentuk yang pertama merupakan masalah yang belum pernah diselidiki sebelumnya, sehingga jawaban atas permasalahan tersebut merupakan pengetahuan baru. Penelitian dalam memecahkan masalah seperti ini dinamakan penelitian murni, Bentuk yang kedua mempelajari masalah yang berupa konsekwen-si prakds dari pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Penelitian keilmuan yang menyelidiki bentuk masalah yang kedua ini disebut peneli¬tian terapan. Ilmu yang berhubungan dengan masalah pertama disebut ilmu murni, sedangkan ilmu yang berhubungan dengan masalah kedua adalah ilmu terapan. Fisika teori, umpamanya, merupakan ilmu murni dan ilmu teknik merupakan ilmu terapan.

Perumus¬an masalah secara baik mengandung pernyataan tentang faktor-faktor atau unsur-unsur yang terlibat dalam masalah tersebut dan hubungan logis yang ingin ditemukan antara mereka. Pentingnya perumusan ini akan kentara bila kita melangkah kepada tahap yang kedua jelas dalam kegiatan ke¬ilmuan, yakni penyusunan hipotesis.

Hipotesis merupakan dugaan mengenai hubungan antara faktor-faktor yang terlibat dalam suatu masalah. Dugaan ini memungkinkan kita untuk menjelaskan hakekat suatu gejala. Seperti diketahui, masalah merupakan suatu pertanyaan yang harus dijawab. Syarat pertama untuk bisa menja¬wab suatu masalah adalah bahwa kita harus mengetahui dengan jelas hubungan-hubungan logis antara faktor yang terlibat dalam masalah ter¬sebut. penelaahan dapat menghasilkan pengetahuan keilmuan. Demikian juga, persyaratan-persyaratan dalam dan langkah harus dipenuhi, agar produk kegiatannya dapat diterima secara keilmuan.

Metode Keilmuan: Sebuah Skema

Dunia rasional dan dunia empiris membentuk sebuah dunia keilmuan yang merupakan gabungan dari kedua dunia tersebut. Dunia rasional adalah koheren, logis dan sistematis, dengan logika deduktif sebagai send' pengikatnya. Di pihak lain terdapat dunia empiris yang obyektif dan ber-orientasi kepada fakta sebagaimana adanya. Kesimpulan umum yang di¬tarik dari dunia empiris secara induktif merupakan batu ujian kenyataa" dalam menerima atau menolak suatu kebenaran. Kebenaran keilmuan bukan saja merupakan kesimpulan rasional yang koheren dengan sistem pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada. Kekuatan berpikir otak manusia digabung dengan pemanfaatan pan-caindefa telah membawa manusia lebih asasi telah membudayakan umat manusia.

Dasar Axiologi Ilmu

Sampailah kita kepada sebuah pertanyaan: Apakah kegunaan ilmu itu bagi kita? Tak dapat disangkal lagi bahwa ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan dan berbagai wajah kehidupan yang duka. Namun apakah hal itu selalu demikian: ilmu selalu merupakan berkat dan penyelamat bagi manusia? Memang, dengan jalan mempelajari atom kita bisa memanfaatkan ujud tersebut sebagai sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi di pihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya, yakni membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka.

pengetahuan adalah ke-kuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan ke¬kuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap. Jalan mana yang akan ditempuh dalam memanfaatkan kekuasaan yang besar itu terletak pada sistem nilai si pemilik pengetahuan tersebut. Atau dengan perkataan lain, netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja: Jika hitam katakan hitam, jika ternyata putih katakan putih; tanpa berpihak kepada siapa pun juga selain kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan secara ontologis dan axiologis, ilmuwan arus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada haKekatnya mengharuskan dia menentukan sikap. Kekuasaan ilmu yang ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat.


Penutup

Bila seorang bertanya kepada saya: Apakah sebenarnya tujuan karang-an ini? Jawabnya adalah sangat sederhana: A gar mereka yang mencintai kebenaran mampu melihat dengan lebih jelas apa yang dinamakan ke¬benaran keilmuan. Agar mereka yang mencintai ilmu bisa lebih mengenal bidang yang dicintainya. Agar mereka yang belajar matematika, statistika, logika dan bahasa, di samping berbagai disiplin keilmuan yang banyak se-kali, melihat kegunaan apa yang telah dipelajarinya, dan dengan demikian akan dirangsang untuk mempelajarinya dengan lebih baik.

No comments:

Copyright © 2013 Dedi Iskamto: TENTANG HAKEKAT ILMU | Design by Ais